Romadhan 2018: Harga Bahan Pokok di Prediksi Stabil

0
280

Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat, bulan yang sangat di nantikan oleh setiap orang muslim terlebih di Indonesia yang notabennya beragama Islam. Kebanyakan warga Indonesia dalam menjalani bulan puasa sangat erat sekali dengan tindakan sosialnya yakni memberi makanan dan minuman untuk dijadikan buka puasa kepada orang-orang dan lembaga-lembaga masjid. Kadang-kadang mengadakan acara buka bersama dengan di kemas dengan tahlilan ataupun dengan amalan lainnya. Namun dari semua kegiatan tersebut tanpa di sadari butuh yang namanya bahan-bahan ataupun kebutuhan ekonomi lebih-lebih makanan.

Berbicara masalah kebutuhan ekonomi di bulan puasa yang pastinya kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan bahan pokok seperti beras, gula, daging atau lauk dan bumbu-bumbu dapur lainnya agar bisa memenuhi kebutuhan. Dari semuanya itu pasti masyarakat sangat mengharapkan harga yang terjangkau dan menyesuaikan dengan pendapatan masyarakat lebih-lebih masyarakat kecil. Tanpa kita pungkiri bersama bahwa harga di bulan puasa masih tergolong tinggi meskipun dari tahun ke tahun sudah mengalami perubahan yakni dari tahun 2014-2016 yang jatuh di bulan juni-juli dan di tahun 2017 yang jatuh di bulam mei-juni inflasi  mencapai 1,36%  di tahun 2014 (juni 0,43% dan juli 0,93%), 1,47% di tahun 2015 (juni 0.54% dan juli 0,93%), 1,35% di tahun 2016 (juni 0,66% dan juli 0,69%), dan 1,08% di tahun 2017 (mei 0,39% dan juni 0,69%) yang di sampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik tapi bagaimana di bulan puasa 2018 ? apakah melonjak atau memberikan keringanan untuk masyarakat.

Bulan puasa 2018 yang sebentar lagi mulai di laksanakan, pastinya harga ekonomi sudah mulai tercium oleh masyarakat. Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (indef) memprediksi angka inflasi pada april 2018 berada di kisaran 0,20%-0,23%, dalam hal ini harga pangan cenderung tinggi menjelang Ramadhan. Dalam hal itu bisa di jadikan pedoman bersama bahwa harga yang nantinya jatuh di bulan puasa tidak jauh dari prediksi tersebut, meskipun pemerintah secara tegas memberikan lampu merah untuk melakukan kerja sama baik pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam melakukan pengawalan harga pasar secara intens menjelang Ramadhan dan hari raya.

Harga pasar bisa terkawal oleh pemerintah salah satunya memastikan stok bahan pokok dengan cara mengintaskan dari tindakan penimbunan. Tindakan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi pelaku pasar karena dengan hal tersebut bisa meraup keuntungan yang sangat besar dan lebih eronisnya bisa pula merusak harga pasar. Kalau harga pasar sudah mulai rusak, pasti akan mengakibatkan adanya inflasi yang membuat masyarakat tidak mau tidak harus membeli barang tersebut lebih-lebih bahan pokok.

Bahan-bahan pokok sudah sepatutnya ada dan harus dibeli untuk dijadikan kebutuhan sehari-hari. Memang ada kalanya seseorang dalam memenuhi kebutuhan perlu berfikir dua kali, mana kebutuhan yang di dahulukan dan di dibelakangkan karena setiap orang mempunya kebatasan tersendiri untuk memenuhi kebutuhannya.

Oleh karena itu perlu adanya kebijakan pemerintah secara khusus untuk dijadikan pedoman dan peringatan keras terhadap pelaku ekonomi yang melakukan penimbunan dan penetapan harga yang cendrung merugikan masyarakat. Salah satu diantaranya mencegah inflasi yang tinggi dan tindakan yang merugikan masyarakat dengan melakukan beberapa cara sebagai berikut:

1. Membatasi bahan pokok impor dan memaksimalkan bahan pokok dalam negeri

2. Mengontrol stok bahan pokok selama bulan Ramadhan hingga lebaran

3. Pemerintah di harapkan mempunyai strategi saat bahan pokok di pasar mengalami kelangkaan

4. Penetapan harga harus sesuai dengan pendapatan masyarakat

Hal selaras juga di sampaikan oleh Presiden Jokowi untuk mengembangkan ekonomi umat dan memperkokoh karakter bangsa, terlebih menjelang bulan Ramadhan yang sudah dijadikan kebiasaan atau tradisi warga Indonesia dalam berbelanja kebutuhan pokok secara besar-besaran. Jadi dalam hal ini perlu pengawasan yang sangat intens biar terhidar dari tindakan yang merugikan masyarakat serta terwujudnya karakter bangsa dan ekonomi umat yang di harapkan oleh pemerintah.

Ahmad Munandar (Penulis Adalah Mahasiswa Ekonomi Syari’ah Universitas Trunujoyo Madura)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here