Teror Bom Libatkan Anak, KPAI Minta Calon Pengantin Dididik Kasih Sayang

0
175
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (Foto: Dok. RB)

JAKARTA – Kejahatan teror menggunakan bom kembali terjadi. Fatalnya, teror bom di Surabaya selain menyasar banyak korban juga melibatkan anak sebagai pelaku.

Dugaan pelibatan anak sebagai pelaku ini juga terjadi di Sidoarjo. “Ini merupakan modus terkini dari deretan ganasnya gerakan terorisme,” kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti di Kantor KPAI, Kawasan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Data yang dimiliki KPAI, modus yang diduga melibatkan anak dalam aksi teror terjadi di sejumlah titik yakni tiga Gereja di Surabaya, Polrestabes Surabaya, Rusunawa Sidoarjo, Kabupaten Toli-Toli, Samarinda, Medan serta sejumlah daerah lain.

Mengingat trend indoktrinasi radikalisme dan terorisme saat ini menyasar keluarga, KPAI meminta Pemerintah untuk melakukan inovasi model pengasuhan.

“Pemerintah Daerah perlu melakukan inovasi pendidikan pengasuhan kepada calon pengantin dan semua kelompok pasangan, baik pasangan muda dan tua agar mengembangkan pengasuhan yang positif, penuh kasih sayang dan tanpa radikalisme,” imbuhnya.

Retno mencermati output dari indoktrinasi terorisme dengan sasaran usia anak yang dilakukan jaringan teror biasanya tidak langsung mengarah pada direct violence agar anak terlibat dalam aksi bom.

“Pada tahap tertentu, anak juga terlibat menebarkan ekspresi kebencian, diantaranya kebencian terhadap pemerintah, terhadap aparat negara, terhadap sistem negara serta terhadap kelompok lain yang tidak sepaham,” jelas dia.

Retno mengatakan sistem penyebaran paham teror seringkali bersifat interpersonalisme yakni menyebar secara personal ke personal lain dengan masif sehingga pola geraknya sulit dilacak. “Maka, deteksi dini harus dilakukan oleh berbagai pihak, baik pihak sekolah, keluarga, guru ngaji dan masyarakat,” ucap Retno.

Di pihak lain, lanjut dia, kasus terorisme yang melibatkan anak perlu didalami secara komprehensif, termasuk memastikan inisiator dan aktor utama di balik kejadian pelibatan anak dalam aksi teror di Surabaya. Inisiator dan aktor utama menurutnya harus dihukum seberat-beratnya agar kejadian yang sama tidak berulang.

Kemudian, pihaknya meminta Pemerintah Kota Surabaya dan Sidoarjo agar memastikan anak korban dan terduga terlibat yang selamat dalam aksi terorisme mendapat perhatian khusus terhadap tumbuh kembang sang anak. “Termasuk pemenuhan hak pendidikan, kesehatan dan hak dasar lainnya,” pungkasnya. (tj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here