MADANI: Terorisme dan Radikalisme Agama Itu Fakta, Bukan Fiksi

0
399
Pengurus Pusat Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (PP MADANI). (Foto: Dok. RB)

JAKARTA – Serangkaian aksi teror bom pasca kerusuhan narapidana teroris di rutan Mako Brimob, Depok, mengguncang Surabaya, Jawa Timur. Tindakan teroris tersebut dipandang punya benang merah atau kaitan dengan radikalisme agama.

Sekretaris Umum PP Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (MADANI) Syarifuddin alias Ending menyatakan, rentetan teror bom bunuh diri di Surabaya menunjukkan jika radikalisme yang mengatasnamakan agama adalah fakta, dan bukan fiksi.

“Ini adalah fakta yang mengoyak nilai-nilai kemanusiaan kita dan bertentangan dengan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin,” kata Ending di Jakarta, Senin (14/5/2018).

Seperti diketahui, dalam dua hari ini telah terjadi serangkaian ledakan bom di Jawa Timur, yakni ledakan bom di tiga gererja di Surabaya, Minggu (13/5), lalu di Rusunawa Sidoarjo. Pagi ini, Senin (14/5), teror bom menyasar Markas Polrestabes Surabaya.

Terkait kejadian teror bom itu, PP MADANI menyampaikan ucapan dan rasa duka yang mendalam terhadap para korban, baik korban meninggal maupun korban luka-luka akibat terkena ledakan bom bunuh diri.

“Semoga suratan takdir ini akan semakin memperkuat iman dan keikhlasan diri, serta menjadi pelajaran dan semangat berharga untuk semakin menumbuhkan semangat damai dan anti kekerasan,” ujar Ending.

PP MADANI juga mengutuk keras segala bentuk terorisme dan radikalisme. Sebab, kata Ending, tidak ada satupun agama di dunia ini, termasuk agama Islam, yang membenarkan tindakan kekerasan dengan cara menebar kebencian dan teror bom.

Selain itu, PP MADANI juga Mendesak perlunya langkah-langkah yang strategis dan sistematis dalam penanggulangan radikalisme dan terorisme di Indonesia, khususnya mempertegas dukungan banyak pihak dalam mempercepat UU anti Terorisme.

“Meminta semua pihak, khususnya tokoh publik baik dari partai politik, pejabat pemerintah dan pimpinan ormas untuk membangun komitmen bersama menciptakan rasa aman dengan membuat statemen yang tidak memperkeruh keadaan,” ucapnya.

Tak hanya itu, PP MADANI mendukung setiap upaya pemerintah, khususnya Kementerian Agama, Kemendikbud dan Kemendikti, melakukan penguatan dakwah dan pendidikan Islam yang damai dan anti kekerasan, serta selaras dengan semangat hidup bersama dalam bingkai NKRI.

Menurut Ending, langkah tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkuat aparat terkait seperti penyuluh agama, guru agama dan dosen agama, baik di itu sekolah, Perguruan Tinggi Agama, pondok pesantren dan Perguruan Tinggi umum.

“Mendukung dan mendesak langkah pemerintah yang bersifat preventif, sistematik dan berkelanjutan melalui pembinaan lembaga dakwah dan pendidikan di sekolah, madrasah, pesantren dan kampus yang diduga menjadi agen penyebaran paham radikalisme di Indonesia,” pungkasnya. (tj)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here