Wakaf Sebagai Penyangga Perekonomian Nasional

0
386
Ahmad Munandar (Foto: Istimewa)

INDONESIA merupakan salah satu negara yang mempunyai penduduk dengan mayoritas beragama Islam, lebih-lebih didukung oleh asas dasar Negara Indonesia sebagaimana termaktub dalam sila Pancasila yang merupakan aturan fundamental dalam bernegara. Tak terkecuali hubungan ekonomi dengan umat beragama. Sebagimana tercantum dalam sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa” dan sila kelima “Keadilan Sosial bagi Aeluruh Rakyat Indonesia”.

Dalam melakukan interaksi tersebut, lebih-lebih di dunia ekonomi yang pada saat sekarang terbilang mengagumkan, berbagai fasilitas diberikan oleh negara untuk menyokong kebutuhan ekonomi demi terjalinnya transaksi ekonomi yang semakin meningkat dan kompetitif.

Dalam hal ini banyak masyarakat melakukan interaksi ekonomi dengan tujuan mencapai target apa yang mereka inginkan baik di sektor pertanian, tambang, property maupun bisnis, terlebih dalam hal mencapai keuntungan sebesar-besarnya.

Transaksi ekonomi baik dalam cakupan membeli, menawar dan tukar menukar barang pastinya tidak luput dari namanya perjanjian, kalau dalam Bahasa Arabnya Akad, karena dengan perjanjian tersebut melahirkan yang namanya aturan dalam melakukan transaksi baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Adanya perjanjian tersebut sebagai bukti jika sudah melakukan transaksi antar kedua belak pihak.

Berbicara tentang ekonomi selayaknya pula harus memikirkan, mengutamakan dan menstabilkan permintaan dan penawaran, karena dua hal inilah yang menjadikan ekonomi suatu negara bisa dibilang maju, berkembang dan meningkat.

Namun bisa pula terbilang sangat buruk kalau dua hal tersebut tidak dipikirkan dengan sebaik mungkin. Permintaan dan penawaran yang pastinya punya pengaruh besar terhadap pendapatan suatu masyarakat, karena permintaan dan penawaran bisa berjalan baik jika pendapatan suatu masyarakat merata.

Perlu kita kitahui bahwa di negara kita pendapatan masih tergolong belum merata, meskipun tingkat kemiskinan mulai membaik dari sebelumnya. Namun hal itu masih di bilang tinggi meskipun pemerintah sudah mendukung dan memfasilitasinya.

Oleh karena itu, dalam dunia ekonomi biar timbul kesetaraan dan kemerataan antar masyarakat, sepatutnya perlu dilakukan gerakan ekonomi sosial dengan cara menyisihkan sebagian hartanya untuk dijadikan wakaf.

Wakaf menjadi penyokong utama perekonomian negara, karena disinilah masyarakat bisa berpartisipasi mengentaskan kemiskinan melalui gerakan wakaf nasional.

Saat ini sudah banyak lembaga-lembaga wakaf yang siap memberikan pelayanan untuk menyalurkan dana wakaf kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan cara bekerjasama dengan lembaga bank dan non bank.

Apalagi wakaf tidak cuma sebatas barang maupun surat berharga layaknya tradisi nenek moyang dulu. Di era kontemporer ini, sudah ada pembaharuan atau klarifikasi mengenai wakaf itu sendiri yang mengikuti zaman agar mempermudah orang-orang melakukan amal baik dengan wakaf tunai atau wakaf uang.

Wakaf merupakan salah satu jalan agar bisa membantu sesama dan menghindari dari tindakan membahayakan dan merugikan orang lain, terlebih masyarkat miskin yang memang membutuhkan sokongan dana serta bisa memberikan pertolongan kepada masyarakat kecil untuk melakukan  bisnis ekonomi meskipun masih terbilang usaha kecil.

Namun demikian, implikasi wakaf bisa mengurangi angka kemiskinan dan tindakan yang tidak diinginkan oleh kita bersama, terutama menyadarkan dan memberikan harapan baru untuk masyarakat kecil.

Untuk mempermudah penyaluran wakaf tunai atau wakaf uang, MUI mengeluarkan fatwa mengenai wakaf uang yang di tetapkan di Jakarta, tanggal 28 Shafar 1423 H/ 11 Mei 202 M. tidak hanya berdasarkan Fatwa MUI, pemerintah melalui perundang-undangan Nomor  41 Tahun 2004 mengatur tentang Wakaf tepatnya tertera pada Pasal 28-31.

Oleh karena itu, salah satu cara mengurangi tingkat kemiskinan yakni dengan mengeluarkannya wakaf tunai atau wakaf uang yang pada saat sekarang ini sudah dijadikan pelayanan prodak oleh bank maupun non bank yang tujuannya untuk menambah aset suatu perusahaan dan juga masih pula memberikan rasa kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan dengan cara bekerja sama dengan lembaga wakaf untuk menyalurkan dana wakaf tersebut tanpa harus menunggu program pemerintah.

Ahmad Munandar (Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Trunojoyo Madura)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here