Grand Syech Al Azhar: Muslim Jangan Mudah Mengkafirkan Orang Lain & Merasa Dirinya Paling Benar

0
382
Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb bersama Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj. (Foto: RB/Ri)

JAKARTA – Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb mendatangi Indonesia. Selama di Tanah Air, ia berkeliling kepada ulama yang ada di Indonesia, salah satunya menemui Ketua Umum PBNU Kiai Said Aqil Siradj.

Dalam pertemuan bersama pengurus NU, Grand Syech menjelaskan, bahwa kedatangannya ke Indonesia untuk memperkuat Islam Moderat yang ramah dan menjunjung tinggi perdamaian.

Dia juga mengimbau kepada umat Islam untuk tidak memonopoli kebenaran, apalagi mengklaim dirinya sebagai pihak yang paling benar sembari menganggap salah kelompok-kelompok lain.

Menurutnya, memonopoli kebenaran bukanlah tindakan yang tepat, apalagi menyalahkan kelompok lain. Tindakan semacam ini justru dinilai dapat mencoreng ketinggian dan keagungan Islam. Bahkan, Islam melarang penganutnya memvonis kafir sesama kelompok ahli qiblat (sesama umat Islam).

“Tidak boleh mengatakan hanya saya yang paling benar, sementara yang lain tidak,” katanya saat berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu (2/5/2018) malam.

Syekh ath-Thayyeb menekankan kaum Muslimin untuk fokus pada titik persamaan ketimbang perbedaan di kalangan umat Islam, baik kelompok Sufi, Wahabi, Ahlussunnah, Syiah dan yanh lainnya.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini juga menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW datang sebagai rahmat untuk semua, bukan terbatas untuk umat Islam.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj menyambut hangat kehadiran Ulama Al Azhar itu. Di tengah keakraban Kiai Said menjelaskan profil singkat Nahdlatul Ulama.

Ia mengenalkan pula kepada Syekh ath-Thayyeb tentang Islam Nusantara sebagai Islam yang menjunjung tinggi moderatisme (wasathiyah) dan perdamaian tanpa mempertentangkan agama dengan keragaman yang ada di Indonesia.

“Islam Nusantara bukan mazhab baru, melainkan karakter khas keberislaman di bumi Nusantara yang ramah terhadap budaya, harmoni dengan kebhinekaan,” jelas Kiai Said. (Ri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here