Ini Kriteria Cawapres Pendamping Jokowi Versi Ketum PPP

0
328
Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy bersama KH. Maimoen Zubair, Presiden Jokowi dan Menteri Agama saat menghadiri Zikir Kebangsaan dan Peresmian Pembukaan Rakernas I Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Teka-teki siapa sosok cawapres yang akan mendampingi Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang masih menjadi tanda tanya besar. Sejumlah nama mulai bermunculan, mulai dari figur dengan latar belakang santri hingga militer.

Terkait hal itu, Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy (Romy) mengaku kerap mendapat pertanyaan siapa cawapres yang akan diajukan partai yang dipimpinnya, terlebih PPP termasuk salah satu partai yang sudah mendeklarasikan diri mengusung Jokowi di Pilres 2019.

“Saya banyak ditanya orang tentang siapa cawapres Pak Jokowi yang diajukan oleh DPP PPP. Sampai saat ini kami DPP PPP baru sebatas mengusulkan kriteria dan belum mengerucut kepada nama, karena semua keputusan akan kembali ke Pak Jokowi,” kata Romy lewat akun twiiter miliknya @MRomahurmuziy, Jumat malam (9/3/2018).

Dia mengatakan, sebelum masuk pada siapa cawapres yang akan diajukan PPP, saat ini yang lebih penting adalah apa yang dibutuhkan bangsa ini dan Jokowi ke depan. Jawaban soal cawapres Jokowi, kata Romy, harus berbasis analisa kebutuhan (need assessment) Jokowi.

Menurut Romy, setidaknya ada lima kebutuhan Jokowi terhadap cawapres pendampingnya. Pertama, Jokowi dikatakan butuh figur yang mampu mengawal narasi besar NKRI yang dibangun di atas nasionalisme dan agama, dimana agama dan kekuasaan berjalan seiring.

“Sejak Soekarno-Hatta, kepemimpinan nasional selalu refleksi dua narasi ini. Era reformasi, ada Gus Dur-Mega, Mega-Hamzah, SBY-JK & Jkw-JK,” tulis Romy.

Kedua, Jokowi dinilai memerlukan figur agamis yang mampu mengurangi ujaran kebencian bernuansa SARA yang marak belakangan ini. Sebab, terang Romy, lawan-lawan politiknya masih melabeli Jokowi sebagai pemimpin “anti Islam, pro komunis dan pro RRC”.

Kemudian, Jokowi butuh figur cawapres yang dapat memahami kaum milenial, karena 39% pemilih pada 2019 berusia di bawah 40 tahun. Cawapres dari kalangan muda dinilai sangat diperlukan karena mereka memiliki selera, gimmick dan gaya komunikasi yang berbeda.

Keempat, Jokowi membutuhkan figur yang memiliki kompetensi menghadapi disrupsi ekonomi, transformasi digital dan persaingan di era Revolusi Industri 4.0. Jokowi juga perlu figur yang dapat memberi sumbangan elektabilitas, meski hal itu dikatakan tidak mutlak.

“Di atas segala kebutuhan tersebut, yang terpenting adalah Pak Jokowi mesti diwakili orang yang secara chemistry nyambung dan beliau merasa nyaman, mampu mengikuti irama kerja, dan dapat meneruskan misi besar pembangunan bangsa yang tengah beliau jalankan,” pungkasnya. (rb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here